SETUPATOK — Semangat mahasiswa Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI) dalam menjalankan program Pengabdian Kepada Masyarakat patut diapresiasi. Meski menghadapi kendala serius dalam pendanaan, hal tersebut tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berkontribusi dalam pengembangan potensi ekonomi Desa Setupatok.
Alih-alih berhenti ketika proposal dana ditolak, para mahasiswa justru membuktikan bahwa inovasi dan kepedulian sosial tidak bisa dihentikan oleh keterbatasan anggaran.

Inovasi Aquaponik untuk Menghidupkan BUMDes
Sekelompok mahasiswa Poltek SCI merancang prototipe lahan aquaponik sebagai upaya mengoptimalkan potensi desa. Gagasan ini berangkat dari kondisi lahan hidroponik milik BUMDes Setupatok yang sebelumnya terbengkalai dan tidak lagi produktif.
Melalui sistem aquaponik—yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman secara berkelanjutan—mahasiswa berharap tercipta unit usaha baru yang mampu meningkatkan pendapatan BUMDes serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
[Foto: Lahan hidroponik BUMDes yang terbengkalai]
Gagasan inovatif ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa. Kuwu Setupatok bahkan memberikan persetujuan terhadap rancangan prototipe yang diajukan. Namun, tantangan muncul ketika proyek memasuki tahap realisasi anggaran.
Proposal Dana Ditolak, Semangat Tak Padam
Meski dinilai matang dari sisi konsep dan teknis, pengajuan pendanaan melalui BUMDes dan kas desa tidak membuahkan hasil. Proposal yang diajukan mahasiswa akhirnya ditolak oleh pihak desa.
Bagi sebagian pihak, penolakan dana kerap menjadi alasan untuk menghentikan program. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi mahasiswa Poltek SCI.
Strategi Patungan: Bukti Dedikasi Nyata
Menghadapi situasi tersebut, para mahasiswa mengambil langkah berani dengan memilih jalur mandiri secara finansial. Mereka sepakat melakukan patungan atau iuran pribadi demi memastikan pembangunan prototipe aquaponik tetap berjalan.
“Kami percaya proyek ini punya manfaat jangka panjang untuk warga Setupatok. Jika kendalanya hanya di pendanaan, kami mencoba mencari solusi sendiri terlebih dahulu,” ujar Fajar, perwakilan Kelompok 5 Poltek SCI.
Keputusan ini menjadi bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa tidak berhenti pada tataran konsep atau sekadar memenuhi kewajiban akademik.
Harapan untuk Masa Depan Desa Setupatok
Melalui pembangunan prototipe aquaponik ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat melihat bukti nyata (proof of concept) yang ke depannya bisa dikelola secara profesional oleh BUMDes. Langkah ini diharapkan menjadi pemicu kebangkitan kembali unit usaha desa yang sempat terhenti.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa hambatan anggaran bukanlah akhir dari perjuangan memajukan desa, melainkan ujian sejauh mana kreativitas, keberanian, dan solusi nyata dapat ditawarkan kepada masyarakat.







