• Web Utama
  • Blog
    • Education
    • Technology
    • Tips & Trick
    • Software
    • Learning
    • Digital
    • Design
  • Berita
  • Daftar Kuliah
  • Terbit Jurnal
No Result
View All Result
PENDAFTARAN
  • Web Utama
  • Blog
    • Education
    • Technology
    • Tips & Trick
    • Software
    • Learning
    • Digital
    • Design
  • Berita
  • Daftar Kuliah
  • Terbit Jurnal
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Dampak Penggunaan AI (seperti ChatGPT) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

Dampak Penggunaan AI (seperti ChatGPT) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

Dampak Penggunaan AI (seperti ChatGPT) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

Dindin Haidar by Dindin Haidar
23 Februari 2026
in Education
0
Share on FacebookShare on Twitter

Perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) telah membawa perubahan fundamental dalam berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali di dunia pendidikan tinggi. Kehadiran platform seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai tools berbasis AI lainnya seolah menjadi pisau bermata dua bagi sivitas akademika.

Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi luar biasa dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik, mulai dari merangkum jurnal, mencari referensi, hingga menyusun kerangka penulisan. Namun di sisi lain, kemunculannya memicu kekhawatiran akan tergerusnya kemampuan fundamental yang seharusnya diasah di bangku kuliah kemampuan berpikir kritis.

Mahasiswa sebagai generasi digital native adalah pengguna paling aktif teknologi ini. Sebuah studi global terhadap 23.218 mahasiswa dari 109 negara mengungkapkan bahwa penggunaan AI memang efektif meningkatkan literasi digital, tetapi dinilai kurang bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan .

Ironisnya, justru di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyintesis informasi menjadi jauh lebih krusial.

Permasalahan yang sering dihadapi mahasiswa saat ini adalah kecenderungan untuk menerima mentah-mentah hasil generasi AI tanpa proses verifikasi atau analisis lebih lanjut. Kebiasaan ini, jika dibiarkan, dapat menyebabkan fenomena yang disebut sebagai cognitive offloading, di mana otak “malas” bekerja karena terlalu bergantung pada teknologi .

Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana dampak penggunaan AI terhadap daya pikir kritis mahasiswa, serta bagaimana menyikapinya agar teknologi ini menjadi teman belajar yang memberdayakan, bukan ancaman yang melemahkan esensi pendidikan tinggi .

Memahami Kecerdasan Buatan (AI) dan Relevansinya di Dunia Kuliah

Daftar Isi

  1. Memahami Kecerdasan Buatan (AI) dan Relevansinya di Dunia Kuliah
    1. Definisi dan Konsep Dasar AI
    2. Fungsi dan Tujuan AI dalam Pembelajaran
    3. Mengapa Topik Ini Penting untuk Dibahas?
  2. Pembahasan Utama Antara Potensi dan Ancaman AI bagi Daya Pikir Kritis
    1. Dua Sisi Mata Uang: Manfaat AI dalam Perkuliahan
      1. 1. Efisiensi Riset dan Pengerjaan Tugas
      2. 2. Membantu Visualisasi Ide dan Konsep Abstrak
      3. 3. Meningkatkan Literasi Digital dan AI
    2. Sisi Gelap AI: Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
      1. 1. Risiko “Kemalasan Kognitif” (Cognitive Offloading)
      2. 2. Plagiarisme dan Hilangnya Orisinalitas Karya
      3. 3. “Halusinasi AI” dan Bias Data
    3. Studi Kasus dan Bukti Empiris
  3. Strategi Jitu Menggunakan AI untuk Mengasah, Bukan Melemahkan, Daya Kritis
    1. You might also like
    2. Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026 Minat vs Prospek Karier
    3. 11 Judul Skripsi Hukum Pidana yang Relevan dengan Isu Terkini
  4. Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Mahasiswa
  5. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
    1. 1. Apakah penggunaan ChatGPT dilarang di lingkungan kampus?
    2. 2. Bagaimana cara agar AI bisa meningkatkan, bukan menurunkan, kemampuan berpikir kritis saya?
    3. 3. Apakah dosen bisa mendeteksi jika saya menggunakan AI untuk membuat tugas?
    4. 4. Apa yang dimaksud dengan cognitive offloading dan bagaimana menghindarinya?
    5. 5. Tools AI apa yang aman dan direkomendasikan untuk riset ilmiah?
  6. Kesimpulan
Memahami Kecerdasan Buatan (AI) dan Relevansinya di Dunia Kuliah
Memahami Kecerdasan Buatan (AI) dan Relevansinya di Dunia Kuliah

Definisi dan Konsep Dasar AI

Kecerdasan Buatan (AI) atau Artificial Intelligence adalah simulasi dari kecerdasan manusia yang diterapkan ke dalam sistem komputer atau mesin. Dalam konteks pendidikan tinggi, AI generatif seperti ChatGPT mampu memproses dan menghasilkan teks, merangkum literatur, serta menjawab pertanyaan dengan cara yang sangat mirip dengan manusia .

Sistem ini bekerja dengan mempelajari pola dari data dalam jumlah besar untuk kemudian memprediksi dan menghasilkan respons yang paling relevan.

Fungsi dan Tujuan AI dalam Pembelajaran

Tujuan utama integrasi AI di dunia kuliah adalah untuk mempersonalisasi pengalaman belajar dan meningkatkan efisiensi.

Pembelajaran adaptif berbasis AI mampu menyesuaikan materi, kecepatan, dan gaya belajar sesuai kebutuhan individu mahasiswa, serta memberikan umpan balik secara real-time . Beberapa fungsi praktis AI yang banyak digunakan mahasiswa antara lain:

  1. Asisten Riset: Tools seperti Scopus AI, Consensus, atau Connected Papers membantu mahasiswa memetakan tren riset dan menemukan research gap dengan cepat .

  2. Penyempurna Tulisan: Aplikasi seperti Grammarly atau Quillbot digunakan untuk memeriksa tata bahasa dan memparafrase kalimat agar lebih akademis .

  3. Tutor Virtual: AI dapat berperan sebagai tutor pribadi yang menjelaskan konsep-konsep sulit dengan cara yang lebih sederhana.

Mengapa Topik Ini Penting untuk Dibahas?

Memahami hubungan antara AI dan berpikir kritis sangat penting karena masa depan dunia kerja tidak hanya membutuhkan lulusan yang cerdas secara kognitif, tetapi juga adaptif terhadap teknologi.

Jika mahasiswa hanya menjadi “penyalin” hasil kerja AI, maka ia tidak akan memiliki daya saing. Sebaliknya, mahasiswa yang mampu menggunakan AI sebagai alat bantu untuk memperkuat argumen dan analisisnya justru akan menjadi talenta yang sangat dicari di era digital ini .

Pembahasan Utama Antara Potensi dan Ancaman AI bagi Daya Pikir Kritis

Pembahasan Utama: Antara Potensi dan Ancaman AI bagi Daya Pikir Kritis
Pembahasan Utama: Antara Potensi dan Ancaman AI bagi Daya Pikir Kritis

Dua Sisi Mata Uang: Manfaat AI dalam Perkuliahan

Kecerdasan Buatan menawarkan segudang manfaat yang dapat merevolusi cara mahasiswa belajar. Ketika digunakan secara tepat, AI dapat menjadi katalisator yang mempercepat pemahaman dan memperdalam wawasan.

1. Efisiensi Riset dan Pengerjaan Tugas

Manfaat utama AI adalah kemampuannya menghemat waktu. Dalam penelusuran literatur, AI dapat memproses ratusan jurnal dalam hitungan detik untuk menampilkan topik-topik utama, tren penelitian, dan celah riset. Seorang dosen UGM bahkan menyatakan bahwa dengan AI, mahasiswa tidak perlu lagi “bolak-balik baca paper” hanya untuk mencari tahu apa yang belum pernah diteliti sebelumnya .

2. Membantu Visualisasi Ide dan Konsep Abstrak

Bagi mahasiswa yang kesulitan memahami konsep abstrak, AI dapat bertindak sebagai asisten yang menyederhanakan informasi kompleks menjadi ringkasan yang mudah dicerna . Selain itu, AI juga sangat baik digunakan untuk brainstorming ide-ide awal penulisan atau penelitian.

3. Meningkatkan Literasi Digital dan AI

Interaksi rutin dengan teknologi ini secara tidak langsung memaksa mahasiswa untuk belajar berkomunikasi dengan mesin melalui rekayasa prompt atau prompt engineering. Kemampuan merumuskan pertanyaan yang spesifik dan efektif kepada AI adalah keterampilan abad ke-21 yang sangat berharga .

Sisi Gelap AI: Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

Sisi Gelap AI: Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Sisi Gelap AI: Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir Kritis

Meskipun menjanjikan, penggunaan AI yang tidak terkendali menyimpan bahaya laten yang dapat menggerogoti fondasi keilmuan mahasiswa. Studi menunjukkan adanya ambiguitas pemahaman etika di kalangan mahasiswa, di mana sebagian dari mereka masih menganggap penggunaan AI tanpa atribusi adalah hal yang wajar .

1. Risiko “Kemalasan Kognitif” (Cognitive Offloading)

Fenomena cognitive offloading terjadi ketika individu mengalihkan beban kognitifnya ke perangkat eksternal. Dalam konteks AI, mahasiswa menjadi terlalu bergantung pada AI untuk memberikan jawaban instan, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk melatih otot berpikirnya.

Sebuah studi menemukan bahwa meskipun secara statistik penggunaan AI berkontribusi terhadap pembentukan sikap proaktif, namun masih ada faktor residual sebesar 65,7% yang mempengaruhi berpikir kritis di luar penggunaan AI, salah satunya adalah kemandirian intelektual . Jika mahasiswa selalu mengambil jalan pintas, kemampuan analisis dan sintesisnya tidak akan pernah terasah dengan optimal .

2. Plagiarisme dan Hilangnya Orisinalitas Karya

Kemudahan AI dalam menghasilkan teks yang mirip tulisan manusia memicu godaan besar untuk melakukan kecurangan akademik. Mahasiswa dapat dengan mudah menyalin hasil generasi AI dan mengakuinya sebagai karya sendiri.

Hal ini tidak hanya melanggar integritas akademik, tetapi juga menghasilkan lulusan yang miskin gagasan orisinal . Institusi pendidikan mulai merespons hal ini dengan mewajibkan mahasiswa untuk transparan dalam penggunaan AI, dan bahkan ada yang mulai mengembangkan detektor untuk membedakan tulisan manusia dan mesin.

3. “Halusinasi AI” dan Bias Data

AI tidak selalu benar. Terkadang, AI mengalami “halusinasi” dengan menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sepenuhnya fiktif atau tidak akurat. Lebih jauh lagi, model AI dilatih dengan data yang mungkin mengandung bias.

Mahasiswa yang tidak kritis akan menelan mentah-mentah informasi bias ini dan mereproduksinya dalam argumen mereka, tanpa pernah menyadari bahwa dasar pemikiran mereka sudah cacat sejak awal .

Studi Kasus dan Bukti Empiris

Hasil penelitian mengenai pengaruh ChatGPT terhadap berpikir kritis menunjukkan temuan yang beragam, namun secara umum mengarah pada kesimpulan bahwa konteks penggunaan sangat menentukan hasilnya.

  • Pengaruh Positif yang Signifikan: Penelitian di UIN Sunan Ampel Surabaya menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT berpengaruh positif terhadap peningkatan berpikir kritis mahasiswa, terutama ketika dimediasi oleh variabel pengambilan keputusan.

    Artinya, AI membantu mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan akademik yang pada gilirannya melatih kekritisan mereka .

  • You might also like

    Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026: Minat vs Prospek Karier

    Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026 Minat vs Prospek Karier

    23 Februari 2026
    11 Judul Skripsi Hukum Pidana yang Relevan dengan Isu Terkini

    11 Judul Skripsi Hukum Pidana yang Relevan dengan Isu Terkini

    20 Februari 2026
  • Korelasi Positif di IAIN Curup: Studi lain di IAIN Curup menemukan bahwa penggunaan ChatGPT berkontribusi positif dalam membentuk sikap mahasiswa yang lebih proaktif, kritis, dan kreatif.

    Nilai R Square sebesar 0,343 menunjukkan bahwa 34,3% kemampuan berpikir kritis mahasiswa dapat dijelaskan oleh penggunaan ChatGPT. Mahasiswa menjadi lebih termotivasi untuk mengeksplorasi ide dan menguji kebenaran informasi .

  • Persepsi Global: Namun, studi global berskala besar dengan 23.218 responden justru menemukan bahwa mahasiswa secara umum merasa ChatGPT kurang berguna untuk pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pengambilan keputusan. Temuan ini menyoroti adanya kesenjangan antara potensi teknologi dan persepsi pengguna di lapangan .

Dari data-data ini, kita dapat melihat bahwa AI ibarat sebuah palu. Di tangan tukang yang ahli, palu bisa digunakan untuk membangun rumah yang kokoh. Di tangan anak kecil, palu bisa digunakan untuk merusak atau bahkan melukai. Kuncinya terletak pada strategi penggunaan dan literasi digital penggunanya.

Baca Juga : AI untuk Edit foto

Strategi Jitu Menggunakan AI untuk Mengasah, Bukan Melemahkan, Daya Kritis

Strategi Jitu Menggunakan AI untuk Mengasah, Bukan Melemahkan, Daya Kritis
Strategi Jitu Menggunakan AI untuk Mengasah, Bukan Melemahkan, Daya Kritis

Agar AI benar-benar menjadi mitra belajar yang efektif, mahasiswa perlu mengadopsi strategi penggunaan yang cerdas dan etis. Berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa diterapkan:

  1. Gunakan AI untuk Memperluas Wawasan, Bukan Menyederhanakan Tugas secara Berlebihan. Manfaatkan AI untuk menemukan sumber-sumber baru, artikel terkait, atau sudut pandang yang belum pernah Anda pertimbangkan.

    Gunakan SciSpace atau Connected Papers untuk memetakan literatur, lalu baca dan analisis sendiri sumber-sumber primer tersebut . Jangan hanya meminta AI untuk merangkum satu buku, lalu Anda puas dengan rangkuman itu tanpa pernah membuka bukunya.

  2. Terapkan Metode “Prompt Chaining” atau Dialog Berkelanjutan. Anggap AI sebagai rekan diskusi. Jangan hanya bertanya sekali lalu selesai. Ajukan pertanyaan lanjutan, minta klarifikasi, atau tantang balik jawabannya. Misalnya, setelah AI memberikan sebuah argumen, Anda bisa bertanya, “Apa kelemahan dari argumen ini?” atau “Berikan saya contoh kasus yang membantah teori ini.” Proses tanya-jawab ini akan memaksa otak Anda untuk tetap aktif dan terlibat secara kritis .

  3. Lakukan Verifikasi Silang (Cross-check) dan Deteksi Bias. Anggap semua output AI sebagai “draf kasar” yang perlu divalidasi. Cek fakta yang diberikan AI menggunakan sumber-sumber terpercaya seperti jurnal ilmiah atau buku teks. Selalu pertanyakan, dari mana data ini berasal? Apakah ada kemungkinan bias dalam informasi ini? Kebiasaan ini adalah inti dari berpikir kritis.

  4. Jaga “Prompt Hygiene” dan Etika Data. Jangan pernah memasukkan data sensitif, data mentah penelitian, atau data pribadi ke dalam AI publik . Matikan fitur pelatihan model pada ChatGPT agar data Anda tidak digunakan untuk melatih AI. Selain itu, selalu nyatakan secara transparan jika Anda menggunakan AI dalam proses pengerjaan tugas. Integritas adalah harga mati seorang akademisi.

Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Mahasiswa

Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Mahasiswa
Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Mahasiswa

Banyak mahasiswa terjebak dalam pola penggunaan AI yang justru merugikan perkembangan intelektual mereka. Hindari kesalahan-kesalahan berikut ini:

  1. Copy-Paste Mentah-mentah (Plagiarisme Terselubung): Ini adalah kesalahan paling fatal. Mengambil teks hasil generasi AI dan menempelkannya langsung ke tugas tanpa modifikasi, sitasi, atau pemikiran tambahan adalah bentuk baru dari plagiarisme. Universitas mulai ketat dengan hal ini, dan beberapa bahkan menganggapnya sebagai pelanggaran akademik berat .

  2. Menggunakan AI untuk Analisis Data Penelitian: Ini adalah batasan yang sangat penting. Para ahli menegaskan bahwa AI tidak boleh digunakan untuk tahap analisis data, baik kualitatif maupun kuantitatif. Hasil analisis AI bisa sangat bervariasi dan tidak dapat dilacak ulang (traceback), sehingga membahayakan akuntabilitas dan validitas penelitian. Tetaplah gunakan perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS, Stata, atau NVivo untuk analisis data .

  3. Percaya Sepenuhnya Tanpa Verifikasi: Menerima informasi dari AI sebagai kebenaran mutlak tanpa proses verifikasi adalah bentuk kemalasan intelektual. Ingatlah bahwa AI bisa “berhalusinasi” dan menghasilkan informasi fiktif yang terdengar sangat meyakinkan .

  4. Mengabaikan Aspek Etika dan Regulasi: Mengabaikan aturan kampus tentang penggunaan AI atau tidak pernah bertanya kepada dosen tentang batasan penggunaannya adalah kesalahan. Setiap institusi mungkin memiliki kebijakan berbeda. Proaktiflah untuk mencari tahu dan meminta kejelasan.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah penggunaan ChatGPT dilarang di lingkungan kampus?

Umumnya, penggunaan ChatGPT tidak dilarang secara mutlak, tetapi penggunaannya harus sesuai dengan etika dan aturan akademik yang berlaku.

Beberapa kampus bahkan mengadakan workshop untuk mengajarkan cara integrasi AI yang etis dalam penelitian . Kuncinya adalah transparansi dan tidak menggantikan peran utama mahasiswa sebagai pemikir.

2. Bagaimana cara agar AI bisa meningkatkan, bukan menurunkan, kemampuan berpikir kritis saya?

Gunakan AI sebagai alat untuk memperluas wawasan dan stimulasi diskusi, bukan sebagai mesin pencari jawaban instan.

Terapkan teknik prompting yang interaktif, lakukan verifikasi silang atas semua informasi, dan selalu gunakan pengetahuan serta analisis Anda sendiri sebagai fondasi utama .

3. Apakah dosen bisa mendeteksi jika saya menggunakan AI untuk membuat tugas?

Ya, sangat mungkin. Saat ini sudah banyak bermunculan perangkat lunak deteksi AI. Selain itu, dosen yang berpengalaman biasanya dapat merasakan “keanehan” dalam gaya bahasa atau kedalaman analisis yang tidak konsisten dengan kemampuan mahasiswa sehari-hari.

Lebih dari itu, menggunakan AI tanpa etika yang benar adalah bentuk kebohongan akademik yang akan merugikan diri sendiri di masa depan .

4. Apa yang dimaksud dengan cognitive offloading dan bagaimana menghindarinya?

Cognitive offloading adalah kecenderungan otak untuk mengalihkan tugas kognitif ke alat eksternal (seperti AI) agar mengurangi beban kerja mental .

Untuk menghindarinya, paksakan diri Anda untuk memahami proses di balik sebuah jawaban. Jika menggunakan AI untuk menulis kode program, misalnya, pastikan Anda memahami setiap baris kode yang dihasilkan, bukan sekadar menyalin dan menjalankannya.

5. Tools AI apa yang aman dan direkomendasikan untuk riset ilmiah?

Beberapa tools yang direkomendasikan oleh para akademisi untuk mendukung riset adalah Scopus AI dan Connected Papers untuk pemetaan literatur, SciSpace untuk memahami paper, serta Zotero atau Mendeley untuk manajemen referensi. Untuk penulisan, Grammarly dapat membantu aspek kebahasaan, tetapi ingat, analisis dan substansi tetaplah pekerjaan Anda .

Kesimpulan

Kehadiran Kecerdasan Buatan seperti ChatGPT di dunia kuliah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, hanya bisa disikapi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis jika digunakan sebagai alat bantu untuk eksplorasi ide, pengambilan keputusan, dan pemetaan pengetahuan .

Namun, di sisi lain, penggunaan yang pasif dan tidak etis justru dapat menyebabkan kemalasan kognitif, plagiarisme, dan erosi integritas akademik .

Tags: ChatGPT dan dunia kuliahDampak penggunaan AIKecerdasan buatan dalam pendidikanKemampuan berpikir kritis mahasiswaPengaruh AI terhadap mahasiswa
Dindin Haidar

Dindin Haidar

Penulis konten yang menggabungkan kreativitas manusia dengan wawasan berbasis data dan teknologi AI. Setiap tulisan dirancang untuk informatif, relevan, dan memberikan dampak positif. Jelajahi insight terbaru di blog ini.

Related Stories

Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026: Minat vs Prospek Karier

Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026 Minat vs Prospek Karier

by Dindin Haidar
23 Februari 2026
0

Memilih program studi di perguruan tinggi adalah salah satu keputusan terbesar yang akan memengaruhi perjalanan hidup seseorang dalam 4 hingga...

11 Judul Skripsi Hukum Pidana yang Relevan dengan Isu Terkini

11 Judul Skripsi Hukum Pidana yang Relevan dengan Isu Terkini

by Dindin Haidar
20 Februari 2026
0

Judul skripsi hukum pidana yang Relevan dengan Isu Terkini sering menjadi tantangan terbesar mahasiswa fakultas hukum. Artikel ini menyajikan 11...

7 Judul Skripsi PAI Kuantitatif yang Sering Disetujui Dosen

7 Judul Skripsi PAI Kuantitatif yang Sering Disetujui Dosen

by Dindin Haidar
20 Februari 2026
0

Judul Skripsi PAI Kuantitatif yang Sering Disetujui Dosen, Judul skripsi PAI kuantitatif sering menjadi pilihan mahasiswa karena mudah diukur dan...

Cara Beradaptasi dengan Lingkungan Baru di Kos atau Asrama

Cara Beradaptasi dengan Lingkungan Baru di Kos atau Asrama

by Dindin Haidar
20 Februari 2026
0

Pindah ke kos atau asrama bisa menjadi pengalaman menantang bagi mahasiswa baru. Artikel ini membahas cara efektif beradaptasi dengan lingkungan...

Next Post
Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026: Minat vs Prospek Karier

Panduan Memilih Program Studi yang Tepat di Tahun 2026 Minat vs Prospek Karier

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Temukan semua keunggulan yang ditawarkan oleh Poltek SCI melalui Program Unggulan kami. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mencapai tujuan pendidikan Anda!

  • Web Utama
  • Blog
  • Berita
  • Daftar Kuliah
  • Terbit Jurnal

© 2024 Blog POLTEK SCI - Made with <3 By. Intention | IT Solution.

No Result
View All Result
  • Web Utama
  • Tentang Kami
  • Pendaftaran
  • Jurnal

© 2024 Blog POLTEK SCI - Made with <3 By. Intention | IT Solution.

Info Lebih Lanjut